Biografi dan Pemikiran Filsafat Henry Corbin

Islamis dan filsuf Prancis Henry Corbin lahir di Paris pada 14 April 1903.

Ia belajar dengan sarjana Prancis seperti tienne Henry Gilson, Emile Brehier, dan Louis Massignon.

Henry Corbin : Biografi dan Pemikiran Filsafat

Untuk memperluas cakupan studinya, ia belajar lebih dari selusin bahasa klasik dan modern.

Ketertarikannya pada filsafat membawanya ke Jerman di mana ia berkenalan dengan Ritter, Karl Löwith, Alexander Kojve, dan Martin Heidegger.

Dia menerjemahkan beberapa karya Heidegger ke dalam bahasa Prancis, termasuk What Is Metaphysics.

Minat filosofis utama Corbin selama tahun 1930-an adalah hubungan antara filsafat dan mistisisme.

Ini adalah faktor utama dalam keputusannya untuk mempelajari filsafat Islam.

Louis Massignon, saat itu kepala studi Islam di Sorbonne, memperkenalkannya pada karya-karya filsuf Muslim abad kedua belas Shihab al-Din Yahya al-Suhrawardi (w.1191).

Suhrawardi mendirikan sekolah filosofis yang disebut School of Illumination dan berusaha menggabungkan analisis filosofis dengan pengalaman mistik—tema yang mengalir melalui karya-karya Corbin.

Pada tahun 1940, selama Perang Dunia II, Corbin pergi ke Istanbul, Turki, untuk mempelajari manuskrip karya-karya Suhrawardi.

Dia tinggal di Turki selama lima tahun ke depan.

Kemudian pada tahun 1945 ia pergi ke Teheran, Iran, di mana ia mendirikan sebuah institut studi Iran di bawah Institut Prancis-Iran.

Ini adalah awal dari keterlibatan seumur hidup Corbin dengan apa yang dia sebut “Islam Persia” (islam iranien).

Iran menjadi tempat kelahiran spiritual baginya.

Corbin adalah seorang penulis yang produktif.

Meskipun karya-karya ilmiahnya sebagian besar dikhususkan untuk eksposisi filosofis pemikiran Islam atau “Oriental”, karya-karya tersebut diresapi oleh kepedulian seumur hidupnya untuk menyadarkan kembali pandangan mistik-filosofis para filsuf mistik seperti Suhrawardi, Ibn al-#Arabi, Mulla Sadra, dan Emmanuel Swedenborg.

Salah satu istilah kunci dalam pemikiran Corbin adalah mundus imaginalis (#alam al-khayal para filosof Muslim).

Jangan bingung dengan dunia “imajiner”, mundus imaginalis mengacu pada tahap perantara antara dunia intelektual dan empiris murni.

Bagi Corbin, ini adalah alam malaikat dan penglihatan spiritual di mana bentuk-bentuk yang masuk akal menjadi tidak material dan bentuk-bentuk yang dapat dipahami mengambil karakter dan dimensi “imajinal”.

Di sinilah langit dan bumi bertemu dalam arti metafisik dari istilah tersebut.

Corbin percaya bahwa tradisi intelektual Eropa telah melupakan konsep penting ini, memutuskan hubungannya dengan “dunia malaikat” dan memberikan pembenaran agama kepada dualisme Cartesian tubuh dan jiwa.

Dalam bacaannya, Corbin mengikuti tradisi hermeneutika spiritual (ta$wil), “mengembalikan” kata-kata ke makna aslinya dan dengan demikian kembali ke “awal”.

Dia menyebut dirinya seorang fenomenolog dalam arti “menyingkirkan selubung kebodohan” (kashf almahjub).

Dalam pencarian filosofisnya, Corbin memberikan beberapa contoh terbaik dari apa yang kadang-kadang disebut filsafat komparatif, dan pengetahuannya yang luas tentang filsafat Eropa dan Asia memungkinkannya melakukan lebih dari sekadar membandingkan atau menyandingkan ide dan konsep yang berbeda.