Feelsafat.com – Kecerdasan afektif mengacu pada seperangkat keterampilan dan kemampuan yang memungkinkan individu untuk mengenali, mengelola, menanggapi, dan mengomunikasikan emosi secara efektif. Telah ada pengakuan populer yang berkembang tentang peran penting afek dalam kehidupan sosial, yang diimbangi dengan minat yang luas dalam afektivitas dalam ilmu-ilmu sosial, termasuk ekonomi, sosiologi, ilmu politik, dan pendidikan.

Kecerdasan Afektif dalam Ilmu Sosial
Penelitian psikologi yang ditujukan untuk mengukur dan mendefinisikan konstruk ini merupakan perkembangan yang relatif baru. Entri ini memperkenalkan bidang baru kecerdasan afektif, menjelaskan gagasan, menunjuk ke pendahulu sejarahnya, dan menunjukkan pentingnya pengaruh dan emosi dalam kecerdasan afektif, kognisi sosial, dan penyelidikan ilmiah-sosial secara umum.
Dalam filsafat Barat, para filsuf seperti Aristoteles, Socrates, Plato, St. Augustine, Stoa, René Descartes, Blaise Pascal, Baruch Spinoza, Adam Smith, dan Immanuel Kant semuanya berusaha memahami peran pengaruh secara umum dan emosi secara khusus. dalam berpikir dan berperilaku. Plato, misalnya, berpikir bahwa pengaruh merupakan aspek sifat manusia yang lebih primitif dan hewani yang tidak sesuai dengan akal dan yang terakhir harus mengarahkan atau menundukkan yang pertama.
Gagasan yang mempengaruhi pemikiran rasional merongrong diabadikan dalam gagasan spekulatif Sigmund Freud dan lain-lain. Beberapa penulis, seperti Arthur Koestler, bahkan berpikir bahwa ketidakmampuan manusia untuk mengetahui dan mengendalikan emosi mereka menunjukkan sebuah “cacat” fatal dalam cara otak mereka berkembang, sebuah kesalahan evolusioner yang dapat mengancam kelangsungan hidup spesies kita. Anehnya, sebagian besar dari apa yang kita ketahui tentang peran pengaruh dalam kognisi dan perilaku sosial baru ditemukan baru-baru ini.
Meskipun perasaan dan pemikiran sering dianggap sebagai fakultas yang terpisah oleh para filsuf dan psikolog awal, penelitian terbaru menunjukkan saling ketergantungan mendasar antara afek, kognisi, dan perilaku. Dalam beberapa dekade terakhir, ahli saraf dan psikolog menghasilkan bukti tak terbantahkan bahwa afek tidak hanya tidak berbahaya tetapi sebenarnya memberikan informasi penting dan adaptif yang diperlukan untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan sosial. Untuk sebagian besar sejarah ilmu sosial, kecerdasan dan pengaruh dianggap sebagai bidang yang sama sekali tidak terkait.
Perkembangan tes empiris kecerdasan membawa kemajuan pesat di bidang itu, tetapi penelitian tentang pengaruh tetap diabaikan selama dominasi paradigma behavioris dan kognitif dalam psikologi. Pandangan Charles Darwin tentang emosi sebagai ditentukan secara biologis dan melayani tujuan adaptif tidak benar-benar dianggap serius sampai tahun 1970-an oleh sosiolog dan psikolog evolusioner. Pada 1980-an, banyak peneliti tentang kognisi manusia mulai menerima gagasan bahwa afeksi adalah bagian penting dan integral dari semua pemikiran, dan ada ledakan pesat dalam penelitian yang mengeksplorasi interaksi antara afek dan kognisi.
Ilmuwan kognitif menunjukkan minat yang semakin besar dalam menggabungkan reaksi afektif ke dalam model kecerdasan buatan mereka, dan ada juga minat baru dalam mempelajari fungsi emosi yang evolusioner dan adaptif. Dalam arti, konsep kecerdasan afektif muncul sebelum ada pendekatan empiris yang tepat untuk mendefinisikan dan mengukur konstruk. Baru pada tahun 1990-an psikolog seperti Peter Salovey dan Jack Mayer mengusulkan teori dan pengukuran kecerdasan afektif, mengintegrasikan pekerjaan dari ilmu saraf, psikologi, filsafat, dan psikologi klinis.
Penulis populer seperti Daniel Goleman segera mengklaim bahwa kecerdasan afektif adalah salah satu prediktor terpenting kesuksesan pribadi dan profesional dalam hidup, meskipun sifat dan karakteristiknya tetap kabur dan kurang jelas. Terlepas dari upaya penelitian yang mengesankan untuk mengukur dan mendefinisikan kecerdasan afektif, tetap ada keterputusan mendasar antara gagasan kecerdasan afektif seperti yang digunakan di media populer dan bukti ilmiah yang tersedia yang mendukung konsep ini.
Ada berbagai definisi dan pendekatan empiris yang saling bertentangan, dan masih belum ada konsensus yang dapat diandalkan tentang apa arti istilah itu dan bagaimana istilah itu harus diukur. Misalnya, seseorang mungkin mendefinisikan dan mengukur kecerdasan afektif sebagai sejumlah kecerdasan yang berbeda kompetensi afektif dapat dinilai dalam suatu inventarisasi, meskipun masih belum jelas apakah kompetensi-kompetensi tersebut saling berkaitan dan harus terjadi bersama-sama pada orang yang sama. Lainnya mendefinisikan kecerdasan afektif sebagai mencakup semua kemampuan atau keterampilan nonkognitif yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil mengatasi tuntutan dan tekanan lingkungan.
Pendekatan ini menghasilkan pengukuran berbagai karakteristik pribadi yang sering tidak terkait, seperti empati, fleksibilitas, kebahagiaan, kontrol impuls, harga diri, dan sejenisnya. Atau, kecerdasan afektif telah didefinisikan oleh Mayer dan Salovey sebagai kemampuan umum yang mendasari untuk mengenali makna emosi dan hubungan mereka dan untuk alasan dan memecahkan masalah atas dasar mereka.
Kecerdasan afektif mungkin terlibat dalam kapasitas untuk memahami emosi, mengasimilasi perasaan yang berhubungan dengan emosi, memahami informasi dari emosi tersebut, dan mengelolanya. Tes kecerdasan afektif Mayer dan Salovey mengukur empat jenis kemampuan: kemampuan untuk (1) memahami emosi, (2) menggunakan emosi untuk menginformasikan pemikiran, (3) memahami makna emosional, dan (4) mengelola emosi dalam diri sendiri dan orang lain.
Masih belum jelas apakah kecerdasan afektif mengacu pada karakteristik individu tunggal, koheren, dan dapat ditentukan atau apakah itu adalah istilah yang mencakup berbagai kemampuan individu yang sudah diketahui yang belum pernah dipertimbangkan bersama sebelumnya.
Ada beberapa bukti bahwa beberapa skala kecerdasan afektif memang mengukur karakteristik yang berbeda dari yang diukur dengan skala kecerdasan atau ukuran kepribadian yang ada, atau tidak ditangkap dengan baik olehnya. Namun, beberapa skala dan definisi kecerdasan afektif lainnya tampak sangat berkorelasi dengan karakteristik kepribadian yang ada dan dengan demikian menjadi berlebihan. Pertanyaan kritis lainnya menyangkut kegunaan kecerdasan afektif dalam memprediksi hasil masa depan yang penting, seperti halnya, misalnya, kecerdasan.
Daniel Goleman bahkan menyarankan bahwa kecerdasan afektif mungkin lebih penting daripada intelligence quotient (IQ) dalam memprediksi kesuksesan sehari-hari. Sayangnya, bukti telah gagal untuk mendukung klaim tersebut. Beberapa psikolog yang berpikiran empiris menjadi putus asa terhadap konsep tersebut dan menyimpulkan bahwa sedikit sisa kecerdasan emosional yang unik dan sehat secara psikometri.
Terlepas dari kenyataan bahwa kecerdasan afektif tidak diragukan lagi merupakan konstruksi yang kompleks, beragam, dan sulit diukur, dan tidak terlalu efektif dalam memprediksi hasil masa depan, namun tetap menjadi konsep penting dalam ilmu sosial pada umumnya dan psikologi pada khususnya. Memahami bagaimana pengaruh berfungsi dalam memberi tahu kita tentang tuntutan yang kita hadapi dalam situasi sehari-hari tetap menjadi pertanyaan yang sangat penting dalam ekonomi, pendidikan, psikologi, dan filsafat.
George Marcus dan yang lainnya telah menyarankan bahwa kecerdasan afektif juga merupakan konsep kunci dalam memahami penilaian dan perilaku politik, seperti pemungutan suara dan identifikasi partai. 
Lebih jauh lagi, mempelajari kecerdasan afektif dapat menjadi jalan yang berguna untuk meningkatkan pengetahuan diri dan pemahaman kita tentang orang lain; itu harus membantu orang mengenali dan bertindak berdasarkan sinyal emosional; dan itu dapat berkontribusi pada peningkatan kesadaran akan pentingnya emosi dalam situasi organisasi, klinis, pendidikan, dan interpersonal.