Zeno (Elea) : Biografi,Pemikiran,dan Karyanya

Zeno (Elea) | Biografi, Pemikiran, dan Karya

Biografi Zeno (Elea)

Berdasarkan informasi dari Plato,Zeno lahir sekitar tahun 490 SM di Elea,sebuah kota Yunani yang sekarang menjadi bagian dari italia selatan.
Cukup sedikit informasi mengenai biografi mengenai zeno.
Diketahui secara filosofis dia menjadi pengikut Parmenides,ia kerap kali membela Parmenides saat diejek orang – orang.
Ia sering menggunakan argumen – argumen dialektik yang dari sudut pandang yang berlawanan yang menunjukkan konsekuensi yang lebih absurd apabila memilih mengkritik Parmenides daripada mengikutinya,sehingga Aristoteles memanggil sebagai Bapak Dialektika.
Zeno diketahui semasa hidupnya pernah menulis sebuah buku yang berisikan empat puluh argumen yang menentang pluralitas,namun sayangnya hanya sedikit tulisannya yang bertahan yakni sekitar dua puluh baris kutipan saja.
Argumen – argumen Zeno inilah yang memiliki pengaruh sangat besar pada sejarah filsafat.
Kemudian Zeno meninggal heroik menentang seorang tiran di Elea sekitar tahun 430 SM.

Pemikiran Zeno (Elea)

Paradoks Pluralitas

Beberapa argumen Zeno yang menentang pluralitas  yang masih bertahan hingga sekarang antara lain :

Argumen Sama dan Berbeda

Dalama dua hal seharusnya hanya memiliki salah satu sifat/kualitas yang sama,namun apabila keduanya benar – benar memiliki banyak sifat /kualitas sama,maka keduanya pastilah benar – benar jenis yang sama dan oleh karena itu hal tersebut bukanlah pluralitas melainkan keduanya adalah satu.

Argumen Besar dan Kecil

Apabila terdapat pluralitas,maka haruslah terdiri dari bagian – bagian yang bukan dari pluralitas itu sendiri.
Namun hal – hal yang bukan pluralitas sendiri tidak memiliki ukuran karena apabila iya,mereka akan dibagi menjadi beberapa bagian yang secara tidak langsung menghilangkan pluralitas itu sendiri karena bagian – bagian tersebut merupakan bagian dari satu kesatuan yang satu.

Argumen Terbatas dan Tidak Terbatas

Dalam argumen ini Zeno mengungkapkan bahwa dalam suatu hal pasti ada jumlah pasti dari banyak hal sehingga menyebabkannya terbatas.
Namun apabila ada banyak hal katakanlah dua hal saja,maka kedua hal tersebut harus berbeda dan untuk membuatnya berbeda maka diperlukan hal ketiga untuk memisahkan kedua hal tersebut.
Sehingga menjadikan jumlah menjadi 3 hal dan kemudian seterusnya bertambah menjadi banyak hal dikarenakan banyaknya hal – hal untuk memisahkan hal – hal yang awalnya hanya dua hal tersebut sehingga menyebabkannya tidak terbatas.
Sehingga keterbatasan dan ketidakterbatasan pada saat yang sama pada pluralitas inilah yang menurut Zeno menyebabkan paradoks pada pluralitas.
Sehingga bagi Zeno lebih logis mengatakan bahwa hanya ada satu hal daripada mengakui adanya pluralitas dikarenakan kontradiksi – kontradiksi tersebut.

Paradoks Gerak

Dalam menentang adanya ‘Gerakan’ ,Zeno memberikan empat argumen antara lain :

Dikotomi

Dalam argumen ini Zeno berpendapat bahwa gerak tidak ada dikarenakan memerlukan yang sesuatu yang mustahil terjadi.
Ia mengandaikan seorang pelari tidak akan pernah mencapai garis finish dalam lintasan yang lurus.
Alasannya adalah pertama – tama seorang pelari harus melintasi setengah jarak interval antara garis start sampai finish,setelah melakukan hal tersebut,pelari tersebut masih harus menyelesaikan setengah dari sisa jarak interval,tetapi saat pelari hendak menutupi setengah dari sisa jarak interval tersebut,pelari terlebih dahul harus menutupi setengah dari sisa setengah jarak interval yang baru hingga seterusnya dan tidak akan pernah mencapai tujuan akhir.
Contohnya apabila tujuannya adalah 1 meter jaraknya,maka pelari harus menempuh 1/2 meter,kemudian setelah sampai di tengah ia harus menempuh 1/4 meter dan kemudian 1/8 meter hingga seterusnya secara terus – menerus.
Hal ini dikarenakan akan selalu adanya dikotomi yang menyebabkan jumlah sebenarnya tidak terbatas.
Singkatnya setiap jarak satu pasti ada setengah jarak,kemudian akan selalu ada jumlah tak terbatas lagi dari setengah jarak,kemudian mustahil untuk mencapai sepenuhnya hal – hal yang tak terbatas ini dalam waktu yang sebenarnya terbatas,dan terakhir mustahil untuk melangkah karena setiap jarak langkah akan selalu ada setengah jarak langkah dan seterusnya dibagi setengah jarak.

Achilles

Bercerita tentang Achilles yang merupakan seorang pelari purbakala tercepat yang berlomba untuk menangkap seekor kura – kura yang perlahan menjauh dari Achilles.
Kedua bergerak pada lintasan yang lurus dengan kecepatan yang konstan,untuk menangkap kura – kura maka Achilles perlu mencapai tempat dimana kura – kura saat ini,namun saat Achilles sampai disana kura – kura tersebut sudah merangkak ketempat yang baru.
Kemudian Achilles menuju ketempat yang baru tersebut namun ternyata kura- kura tersebut sudah pindah tempat lagi dan seterusnya hingga menurut Zeno Achilles tidak akan pernah menangkap kura – kura tersebut.
Menurut Zeno siapapun yang percaya Achilles akan berhasil menangkap kura- kura dan percaya bahwa gerakan secara fisik dimungkinkan adalah korban ilusi.
Argumen sekilas mirip dengan argument dikotomi namun terdapat perbedaannya yaitu
Argumen dikotomi berbasis pada kemustahilan dalam melakukan sesuatu yang jumlahnya tak terbatas dalam waktu yang terbatas,sementara argument Achilles terjebak pada kata ‘Selalu’ dan ‘Tidak Pernah’. 

Flying Arrows

Bagi Zeno waktu tersusun atas momen – momen,panah yang bergerak harus menempati ruang yang sama dengan dirinya pada saat apapun yakni selama momen tersebut tempat ia berada tidak dibagi sehingga menurutnya tempat tidak pernah bergerak.
Jadi menurutnya setiap saat panah menempati ruang yang sama untuk dirinya sendiri maka realitanya panah itu sebenarnya tidak bergerak diwaktu itu.
 

Moving Rows

Zeno percaya bahwa ruang dan waktu adalah diskrit (Terkuantisasi dan dikabutkan) sebagai lawan dari berkelanjutan guna menantang argumen koherensi gagasan ruang dan waktu.

Paradoks Millet Seed

Zeno membuat paradoks ini sebagai argumen untuk mengkritik kinerja indra,selain itu paradoks ini juga sebagai bentuk dukungan Zeno terhadap pemikiran Parmenides terhadap kinerja indra yang tidak dapat diandalkan.
Ia menunjukkan kelemahan indra dengan mengandaikan sebuah wadah yang berisi butiran biji millet katakanlah seribu biji yang jatuh ke lantai yang kemudian membuat suara yang seharusnya terdengar adalah bunyi dari masing – masing seribu biji tadi namun faktanya yang terdengar oleh indra kita tidak seribu biji tersebut namun hanya Sebagian kecil saja.

Paradoks The Place of Place

Zeno membuat paradoks baru dimana ia melihat adanya kontradiksi pada ‘tempat’.
Saat suatu objek diletakkan maka secara tidak langsung objek itu menempati suatu tempat,dan karena segala sesuatu memiliki tempat maka tempat itu sendiri juga memerlukan tempat dan kemudian seterusnya.
Sehingga Zeno beranggapan bahwa hal ini akan menghasilkan kontradiksi akan adanya tempat yang tidak terhingga dikarenakan banyaknya tempat.

Karya Zeno (Elea)

Pemikiran – pemikiran mengenai Zeno kebanyakan ditulis dan diceritakan oleh Plato dan Aristoteles.